Sabtu, 22 Oktober 2016

RENAN

Pagi ini hujan menyelimuti jalanan di kota ini. Kulihat sendu dimatamu. Berharap ada yang keluar dimulutmu untuk bicara. Semoga tak ada sesuatu yang terjadi padamu.

“Ren, kamu sakit?”, tanyaku.
“Enggak wa, perasaanmu aja”, balasnya.

Hari ini ruang kuliah terasa sepi karena kebanyakkan mahasiswa tidak berangkat kuliah. Iya hari ini hujan sangat lebat sehingga mahasiswa lebih memilih mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kampus.

“Wa, kamu pulang sama siapa?”, tanya Renan.
“Aku tadi berangkat sendiri. Kebetulan tadi Bayu gak berangkat kuliah karena dia masih tidur. Apalagi tadi hujan, yaa dia lebih milih tidur pastinya”, balasku.
“Aku boleh nebeng gak? Aku gak bawa motor soalnya”, balas Renan.
“Iya ayo ren”.

Matahari yang tidak memperlihatkan panasnya di siang ini, ia terkalahkan. Sehingga cuaca siang ini mendung dan langitpun tertutup oleh kabut. Aku berharap ada sepatah kata dari Renan yang terucap tentang keadaannya yang tidak biasa hari ini.

“Wa, ngeteh yuk, aku sekalian mau cerita”.
“Dimana? Tempat biasa?”.
“Iya wa..”.

10 menit kami sampai di cafe.

“Wa, apa aku harus putus sama Dika?”.
“Haa?” , jawabku kaget.
“Iya wa. Aku diselingkuhi Dika lagi untuk yang keempat kalinya. Salahku apa?. Aku juga gak pernah nyelingkuhi dia”, balasnya dengan tangisan.
“Ren, ikuti kata hatimu. Aku gak bisa memberikan solusi. Soalnya ini masalah hati. Semua keputusan ada ditanganmu. Pasti keputusanmu adalah yang terbaik”, balasku.

Senja sore ini serasa damai dan matahari serasa enggan untuk tenggelam.
Rasanya aku seorang pecundang yang tak pernah bisa menunjukkan perasaanku ke Renan. Aku hanya tempat untuk menghapus air matanya, tempat mengadunya tentang segala permasalahannya terutama dengan Dika. Jika Renan putus, apakah aku masih memiliki posisi di dirinya? Walau hanya dibutuhkan saat dia membutuhkan dan bukan menjadi prioritasnya. “Ah sial”.

“Dewa.............” teriak Renan dari pintu gerbang kampus saat aku memarkirkan motor.
“Eh Ren, kok kelihatannya kamu lagi seneng”.
“Hahaha, iya wa. Aku udah mutusin Dika. Kamu tau gak rasanya hatiku langsung lega gitu”.
“Syukur deh. Semoga keputusanmu itu yang terbaik”.

Kelas kuliah rasanya sepi, padahal hampir seluruh mahasiswa masuk. Aku gak tahu dengan perasaan ini. Terasa sesak saat Renan mengatakan telah putus dengan Dika. Seharusnya aku senang karena ada kesempatan untuk mendekatinya tapi itu mustahil.

“Wa, jalan yuk. Keliling kota juga boleh. Rasanya aku pengen merayakan kegembiraanku ini”.

Sore ini jalanan sepi di Ibukota. Serasa jalan milikku dan Renan.

“Ke cafe biasa yuk wa..”.

Setengah jam kami berdiam bersama sambil menikmati minuman teh di sore ini. Tak ada suara yang terucap kecuali suara gelas yang dilakukan pelayan di belakang. Tak ada percakapan antara aku dan Renan. Cafe di sore ini sepi. Hanya ada aku dan Renan.

“Wa, lulus nanti kamu mau langsung kerja?, “ucap Renan memulai pembicaraan.
“Belum tau sih ren, ada planning buat ngelanjutin S2 juga, kamu?.
“Aku pengennya lanjut S2. Aku pengen berkarier tapi jika kelak suamiku tidak mengijinkan ya apa boleh buat terpaksa jadi ibu rumah tangga hahaha”.
“Apa bisa kamu?”.
“Hahaha bisalah”.

Tiba-tiba suasana hening kembali. Tak ada yang melanjutkan pembicaraan sebelumnya.

“Wa, kok selama ini kamu gak pernah cerita tentang cewek yang kamu taksir? Kamu udah lama jomblo lho... Eh iya gimana sama Claudya?”.
“Aku gak ada perasaan sama dia kok. Dia udah nyatain perasaannya ke aku tapi aku tolak. Soalnya aku gak suka dia”.
“Lalu kamu suka siapa?”.

Suasana kembali hening. Aku bingung untuk menjawab pertanyaan Renan.

“Kamu..”.
“Sama”, ucap Renan.
“Aku merasa nyaman kalau sama kamu. Aku kira perasaan ini hanya sekedar perasaan nyaman untuk sahabat. Ternyata gak. Bodohnya aku terlalu memikirkan orang di sana. Padahal di sini ada seorang laki-laki yang selalu ada untukku, yang selalu memberikan bahunya untukku”, balas Renan
“Renan, aku sayang kamu”

0 komentar:

Posting Komentar