Pagi
ini hujan menyelimuti jalanan di kota ini. Kulihat sendu dimatamu. Berharap ada
yang keluar dimulutmu untuk bicara. Semoga tak ada sesuatu yang terjadi padamu.
“Ren,
kamu sakit?”, tanyaku.
“Enggak
wa, perasaanmu aja”, balasnya.
Hari
ini ruang kuliah terasa sepi karena kebanyakkan mahasiswa tidak berangkat
kuliah. Iya hari ini hujan sangat lebat sehingga mahasiswa lebih memilih
mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kampus.
“Wa,
kamu pulang sama siapa?”, tanya Renan.
“Aku
tadi berangkat sendiri. Kebetulan tadi Bayu gak berangkat kuliah karena dia
masih tidur. Apalagi tadi hujan, yaa dia lebih milih tidur pastinya”, balasku.
“Aku
boleh nebeng gak? Aku gak bawa motor soalnya”, balas Renan.
“Iya
ayo ren”.
Matahari
yang tidak memperlihatkan panasnya di siang ini, ia terkalahkan. Sehingga cuaca
siang ini mendung dan langitpun tertutup oleh kabut. Aku berharap ada sepatah
kata dari Renan yang terucap tentang keadaannya yang tidak biasa hari ini.
“Wa,
ngeteh yuk, aku sekalian mau cerita”.
“Dimana?
Tempat biasa?”.
“Iya
wa..”.
10
menit kami sampai di cafe.
“Wa,
apa aku harus putus sama Dika?”.
“Haa?”
, jawabku kaget.
“Iya
wa. Aku diselingkuhi Dika lagi untuk yang keempat kalinya. Salahku apa?. Aku
juga gak pernah nyelingkuhi dia”, balasnya dengan tangisan.
“Ren,
ikuti kata hatimu. Aku gak bisa memberikan solusi. Soalnya ini masalah hati.
Semua keputusan ada ditanganmu. Pasti keputusanmu adalah yang terbaik”,
balasku.
Senja
sore ini serasa damai dan matahari serasa enggan untuk tenggelam.
Rasanya
aku seorang pecundang yang tak pernah bisa menunjukkan perasaanku ke Renan. Aku
hanya tempat untuk menghapus air matanya, tempat mengadunya tentang segala
permasalahannya terutama dengan Dika. Jika Renan putus, apakah aku masih
memiliki posisi di dirinya? Walau hanya dibutuhkan saat dia membutuhkan dan
bukan menjadi prioritasnya. “Ah sial”.
“Dewa.............”
teriak Renan dari pintu gerbang kampus saat aku memarkirkan motor.
“Eh
Ren, kok kelihatannya kamu lagi seneng”.
“Hahaha,
iya wa. Aku udah mutusin Dika. Kamu tau gak rasanya hatiku langsung lega gitu”.
“Syukur
deh. Semoga keputusanmu itu yang terbaik”.
Kelas
kuliah rasanya sepi, padahal hampir seluruh mahasiswa masuk. Aku gak tahu
dengan perasaan ini. Terasa sesak saat Renan mengatakan telah putus dengan
Dika. Seharusnya aku senang karena ada kesempatan untuk mendekatinya tapi itu
mustahil.
“Wa,
jalan yuk. Keliling kota juga boleh. Rasanya aku pengen merayakan kegembiraanku
ini”.
Sore
ini jalanan sepi di Ibukota. Serasa jalan milikku dan Renan.
“Ke
cafe biasa yuk wa..”.
Setengah
jam kami berdiam bersama sambil menikmati minuman teh di sore ini. Tak ada
suara yang terucap kecuali suara gelas yang dilakukan pelayan di belakang. Tak
ada percakapan antara aku dan Renan. Cafe
di sore ini sepi. Hanya ada aku dan Renan.
“Wa,
lulus nanti kamu mau langsung kerja?, “ucap Renan memulai pembicaraan.
“Belum
tau sih ren, ada planning buat
ngelanjutin S2 juga, kamu?.
“Aku
pengennya lanjut S2. Aku pengen berkarier tapi jika kelak suamiku tidak
mengijinkan ya apa boleh buat terpaksa jadi ibu rumah tangga hahaha”.
“Apa
bisa kamu?”.
“Hahaha
bisalah”.
Tiba-tiba
suasana hening kembali. Tak ada yang melanjutkan pembicaraan sebelumnya.
“Wa,
kok selama ini kamu gak pernah cerita tentang cewek yang kamu taksir? Kamu udah
lama jomblo lho... Eh iya gimana sama Claudya?”.
“Aku
gak ada perasaan sama dia kok. Dia udah nyatain perasaannya ke aku tapi aku
tolak. Soalnya aku gak suka dia”.
“Lalu
kamu suka siapa?”.
Suasana
kembali hening. Aku bingung untuk menjawab pertanyaan Renan.
“Kamu..”.
“Sama”,
ucap Renan.
“Aku
merasa nyaman kalau sama kamu. Aku kira perasaan ini hanya sekedar perasaan
nyaman untuk sahabat. Ternyata gak. Bodohnya aku terlalu memikirkan orang di
sana. Padahal di sini ada seorang laki-laki yang selalu ada untukku, yang
selalu memberikan bahunya untukku”, balas Renan
“Renan,
aku sayang kamu”